Rantei(嵐亭)

IMG_9479  IMG_9480

Name Rantei (嵐亭) Kyoto Century Hotel
Type Japanese cuisine
Category “MUSLIM FRIENDLY” by Kyoto Council For Sharia and Halal Affairs
Owner Japanese (non-muslim)
Staff Japanese (non-muslim)
Alcohol Served
Language Japanese, English
Address 680 Higashi Shiokoji-cho,Shimogyo-ku,Kyoto ( MAP )
Access 2 Minute Walk from Kyoto Station(JR, Subway, Bus)
Tel 075-351-0158
Open [ Breakfast ] 7:00~10:00
[ Lunch ] 11:30~14:30
[ Dinner ] 17:00~21:30 (L.O.21:00)
Close Sunday, National holiday
URL 京料理 嵐亭(Japanese)
News Release (English)
Notes *Reservation is required at least 3 days in advance.

Tempura Halal di Kyoto

by Aulia Chloridiany

IMG_8921
“Selamat malam, Aulia san. Bolehkah saya belajar (Bahasa Indonesia, makanan halal, dll) pada bulan Februari? Kapan anda ada waktu?”

Begitu pesan Fumie di Facebook. Wah, saya langsung bersemangat. Bagaimana tidak, Fumie san adalah kawan pertama saya di Kyoto. Dia banyak membantu saya selama di Kyoto, juga mengenalkan dengan teman-temannya. Jadi, saya selalu menanti-nantikan pertemuan dengan Fumie dan kawan-kawannya.

Saya membalas dengan cepat, menanyakan waktu dan tempat pertemuan. Ternyata Fumie ingin mencoba restoran makanan halal di Kyoto.
Makanan halal? Ya, sebagai negara dengan penduduk mayoritas Shinto dan Buddha, tentu tak mudah untuk mencari makanan halal di Jepang. Saya jadi tambah tertarik. Apalagi restoran yang ditawarkan Fumie menyajikan menu makanan Jepang. Jadi bukan restoran Indonesia, Arab, atau India, yang memang ada juga di Jepang.

IMG_9478
Makanan Jepang biasanya menggunakan daging babi atau lemak babi, misalnya untuk menu ramen dan kare Jepang. Lho, kan banyak yang dari bahan makanan laut, seperti sushi dan sashimi dan tempura dan semua yang enak-enak itu, hehe? Nah, biasanya para koki memasak dengan campuran sake atau alkohol. Hmm, ribet juga, ya….

Untungnya, beberapa waktu ini – tepatnya sejak terkena krisis ekonomi dan menjelang Olimpiade Tokyo 2020 – pemerintah Jepang mulai menggalakkan sektor pariwisata. Nah, salah satu target pasarnya adalah wisatawan muslim. Jadilah mulai dibangun berbagai fasilitas untuk muslim misalnya mushola di Bandar Udara Kansai. Selain itu, yang tak terhindarkan lagi tentu saja bermuncullah restoran dengan label ‘’halal’’.

Siapa yang berhak memberi label ‘’halal’’ di Jepang? Di Jepang sih, setahu saya, ada Japan Muslim Association. Tapi saya dengar juga label halal bisa diminta dari masjid atau komunitas muslim di setiap kota. Misalnya di Rantei Restaurant, label “Muslim Friendly”nya diberikan oleh Kyoto Council For Sharia and Halal Affairs.
IMG_9480
Oya, omong-omong soal makanan Jepang, orang Jepang boleh berbangga. Pasalnya, pada tanggal 5 Februari 2013, UNESCO menobatkan washoku – secara harfiah artinya makanan Jepang –sebagai Warisan Budaya Dunia Tak Benda. Makanan Jepang adalah yang kedua setelah makanan Perancis yang dianugerahi penghargaan prestisius ini. Washoku dipilih karena memenuhi kriteria untuk menggunakan bahan baku lokal dan berperan penting dalam kebudayaan Jepang. Yang disebut washoku sendiri termasuk sushi, tempura, udon, soba, yaki-mono (segala yang dipanggang atau digoreng), itame-mono (segala yang ditumis), chinmi, dan semua makanan dimasak dengan dashi (penyedap rasa dari ikan). , Wah, saya makin bersemangat. Makan makanan Warisan Budaya Dunia, halal pula!

Singkat cerita, di suatu siang yang cerah di bulan Februari, saya naik bis menuju Restoran Rantei di Kyoto Century Hotel. Letaknya hanya sekitar 200 meter di samping timur Stasiun Kyoto, tepat di sebelah Kyoto Granvia Hotel. Terletak di lantai dua Kyoto Century Hotel, saya intip, ini restoran ‘’Jepang banget’’. Pelayan restorannya pakai kimono, dekorasi restorannya bergaya Jepang, dan menu makanannya juga Jepang tulen. Jadi berasa di Jepang, halah, hehehe…..
IMG_9481

Tunggu punya tunggu, ternyata Fumie datang bersama salah satu kawan baik saya juga, Miki . Yokatta. Senangnya.

Setelah asyik menanyakan kabar, kami langsung memesan paket Muslim Friendly Tempura Emperor’s Meal. Saat makan siang begini, paket ini harganya hanya 3100 yen (termasuk pajak). Tak selang berapa lama, makanan pembuka dalam satu keranjang bambu mungil datang. Isinya, seekor udang, tahu/tofu, tamagoyaki (telur dadar ala jepang), potongan ketimun, dan tomat mini ditusuk seperti sate. Plus miso soup. Rasanya? Enak! Potongan kecil dan kombinasi makanan-makanan segar itu merangsang selera makan saya.
IMG_8918
Setelah menghabiskan makanan pembuka, pelayan berkimono mengantarkan menu utama: semangkuk nasi, sepiring penuh tempura, sepiring daging panggang halal, sepiring kecil konyaku, yuba dan tentu saja soyu atau kecap Jepang. Saya langsung tertarik dengan tempuranya. Ya, macam-macam bahan makanan berbalut tepung tempura tersaji. Mulai dari udang, cumi-cumi, conger, bawang perai, jamur shiitake, wortel,terong dan cabai hijau. Sambil makan, mulut kami tak henti berdecak, ‘’Oishii ne.’’ Enak. Ketika digigit, tempura terasa renyah kulitnya dan ketika ditelan, lembut isinya. Dengan sekian banyak jenis tempura itu, perut kami terasa kenyang. Belum lagi ditambah daging panggang dan konyaku.
IMG_8920
Untungnya, menu penutup kami menyegarkan: dua potong nanas dan sepotong jeruk. Lidah kami tak sempat jenuh jadinya. Pas. Apalagi ditutup dengan minum teh hijau. Perut kenyang, tapi badan berasa sehat.

Setelah makan, kami berbincang dengan Head Chef, Takayuki Iwamoto. Dia menjelaskan memang sama sekali tak memakai bahan makanan dari alkohol dan babi. Pun menggunakan daging sapi dan ayam yang disembelih dengan cara halal.
Oya, satu yang saya penasaran. Jangan-jangan, bahan makanan “halal” malah mengurangi keotentikan rasa makanannya. “Rasa makanannya persis dengan makanan Jepang biasanya?” tanya saya ke Fumie dan Miki.
“Onaji! Sama!” jawab mereka serempak.
1961494_10151960835942078_1427163373_n
Waaah, jadi bagi Anda yang ingin merasakan rasa makanan Jepang yang otentik, tapi ingin tenang dengan kehalalalan bahannya, silakan mampir ke Rantei Restaurant.
Di Rantei Restaurant, ada berbagai macam menu makanan Jepang ramah muslim. Misalnya paket makan malam Kaiseki (upacara minum teh) seharga 5100 yen, paket sarapan seharga 2600 yen, dan berbagai jenis makanan lain dengan kisaran harga 8000-10.000 yen.
Selain Rantei Restaurant, set makanan Jepang halal juga tersedia di Minokichi, Shin Hankyu Hotel, dan Le Temps, Hotel Granvia Kyoto. Jadi kini kalau Anda berkunjung ke Jepang, jangan khawatir. Anda bisa menemukan berbagai restoran halal. Jangan lupa belinya pakai uang halal, ya!